Untuk informasi selengkapnya, kamu bisa klik Dumet School sekarang!

Setelah mengikuti kelas Dumet School, kita lekas yakin bisa membuat Aplikasi Mobile Android  dan iOS dengan menggunakan Angular dan Ionic Framework


banner_lombamenulisblog_300x250

Kira-kira nikmat mana lagi yang kita dustakan, ketika sedang menggenggam Gadget kita ini ya?

Karena semua kelezatan aplikasi mobile di dalamnya, pastilah berhasil memanja kebutuhan, sekaligus keinginan kita. Membuat kita mampu berkenalan intim dengan tehnology-digital masa kini. Dan berhasil merayu kita, untuk menjadi user  yakni pengguna setianya.

Kapasitas RAM di Gadget kita, wajar bisa menjadi alasan pembatas menyematkan banyak aplikasi menarik yang tersedia. Dan pada akhirnya, kita hanya bisa memilihkan beberapa Aplikasi mobile favorit saja yang benar-benar ‘bermanfaat’

Dan itu pastilah sulit untuk memilihkannya kan? Karena silih-berganti kehadiran aplikasi mobile teranyar, pasti akan sayang dilewatkan.

Nah memang, kita harus mengakui jua, di masa Pandemi, keberadaan aplikasi mobile sudah berhasil menjadi medium, melayani kebutuhan manusia apa saja, yang kini hanya terkungkung di rumah saja.

Malah secara sadar, penggunaan aplikasi mobile sudah menjadi sandaran baru kita, dan   berhasil menyaji candu kepada usernya, ketika kita sedang bertatapan di layar Gadget.

Lalu apakah kita sudah benar-benar berhasil menegak candu pada aplikasi mobile pilihan kita, yang tersemat di Gadget kita?

Entah kita –hanya- menjadi user setianya saja, atau  pula kita telah berhasil menjadi maker Aplikasi mobile itu.

Nah itu tentu akan lebih menarik, jika dikaitkan –lagi- dengan banyak fenomena yang terjadi di masa Pandemi. Dan mari kita buktikan saja-lah, untuk merasakan candu aplikasi mobile yang pastilah nikmatnya tiada-tara.

Yuk, menengak candu itu, sembari berselancar di Aplikasi mobile pilihan!

Nah, pernahkan kita bertanya pada diri kita sendiri, apa sih alasan kita menyemat aplikasi mobile pilihan di Gadget?

Bisa saja alasan utamanya,  aplikasi pilihan kita tadi massif disematkan. Dan itu akan memudahkan kita terhubung ke banyak orang.

Ambilah contoh, salah satu aplikasi mobile yang mendunia, yakni Youtube, yang –saya yakin- juga sudah tersemat apik di Gadget kita.

Coba rasakan saja, ketika berselancar di aplikasi Youtube tersebut. Kita pastilah merasakan kelezatannya, seraya kita memanen banyak informasi di dalamnya kan?

Lebih lanjut, sebagai user aplikasi mobile Youtube ini, kita juga dengan mudah mengimprovisasikannya. Yakni dengan menjadikan diri kita Content-Creator di aplikasi ini.

Jika berhasil, katanya kita akan sangat mudah menghisap manisnya candu yang kita maksudkan itu? Marilah kita bayangkan saja sosok-sosok Atta Halilintar, Ria Ricis sampai Raditya Dika, dan masih banyak Youtuber lainnya.

Nah ternyata menjadi user sejati aplikasi ala Youtube saja kita bisa mengandalkannya sebagai sumber pendapatan lho.

Namun ya untuk memanen hasilnya, diperlukan ide kreatifas tingkat tinggi dan juga skill mengemas konten agar layak laris dijaja di aplikasi mobile Youtube.

Selanjutnya, kita bisa saja bertanya, dari mana sih, aliran candu yang bisa dikecap para user aplikasi  Youtube tadi? Siapa tahu kita bisa jua mencobanya, dan jua beruntung mengecap candunya!

1. Youtube Partner Program

Mengecap madu aplikasi YouTube kita bisa kita mulai dengan ikut program ini. Dimana cara kerjanya, kita akan mengundang para iklan, yang biasanya hadir memotong konten youtube kita, yang sedang para viewer saksikan.

Tentu saja, untuk bisa mengikuti program ini di aplikasi ini. Kita harus memenuhi Syarat dan Ketentuan Berlaku (SKB) yang disayaratkan Youtubu. Seperti kemampuan kita menaikkan jumlah subsriber akun Youtube kita hingga mencapai 1000 akun. Dan juga watch time minimal 4000 kali putar. Mampu?

Nama keluarga Gen Halilintar tentu tidak asing lagi. Hingga saat ini, bahkan Atta sudah mampu menggaet 21.7 juta subscribers, menjadikannya sebagai Youtuber indonesia yang memiliki banyak pengikut. 

Adapun gaji YouTuber Atta Halilintar bisa mencapai Rp 5.1 miliar hingga Rp 81.6 miliar per tahun. 

Penelusuran SocialBlade!

Atta Halililintar

Atta Halilintar
Youtuber

2. Youtube Sponsorship

Nah program kini juga kita bisa coba! Dimana produk iklan tertentu akan rela membayar para Youtuber atas konten keren kita tadi. Biasanya bayaran yang ditawarkan  sekitar Rp 750 ribu per 1000 penonton. Dan yang pasti jika kita sudah berada di level ini,  kita pastilah bukan seorang Youtuber yang kaleng-kaleng ya? Terkenal lah gitu!

Berkat konten squishy yang sering ia tayangkan, kini Ria Ricis atau Ria Yunita mampu menggaet 19.4 juta subscribers, dengan total penghasilan per tahun antara Rp 1.8 miliar hingga Rp 28.8 miliar.  

Penelusuran SocialBlade! 

Ria Ricis

Ria Ricis
Youtuber

3. Youtube affiliate marketing

Berselancar di Youtube, Pastilah kita pernah menemukan dan menyaksikan review konten produk tertentu ya? Nah begitulah program ini bekerja dan menghasilkan pundi buat kita. Jadi intinya, pengiklan akan membayar kita, melalui CTR. Serta berapa banyak orang yang membeli produk lewat link yang kita sematkan dalam konten kita di Youtube.

Dengan kepintarannya dalam membuat konten yang menarik dan menghibur, Raditya Dika berhasil meraup hampir 8.6 juta subscribers. Penghasilannya bahkan cukup menggiurkan, yaitu sekitar Rp 2.6 miliar – 46 miliar per tahun.

Penelusuran SocialBlade! 

Raditya Dika

Raditya Dika
Youtuber

Candu menjadi maker aplikasi mobile, juga tak kalah manisnya lho!

Nah cerita di atas, memang baru mengulas manfaat salah satu dari banyak aplikasi mobile pilihan di Gadget kita, Yakni YouTube.

Namun jika kita menikmati hadirnya banyak aplikasi mobile lainnya, pastilah memberikan celah kepada para usernya. Yakni agar kita jua bisa mengkapitalisasikannya menjadi sumber pundi, dan selanjutnya bisa menjadi candu kehidupan!

Dan wajar jika lantas, kita bertanya-tanya pula kira-kira berapa banyak pundi pula yang para maker alias penyipta aplikasi mobile dapatkan ya?

Karena ya logis saja, jika para maker ini sudah berhasil membuat panggung para usernya itu untuk meraup pendapatan yang melimpah ruah.

Periklanan pastilah menjadi andalan banyak aplikasi menyipta candu berupa pundi pendapatan tadi. Sebagai bocoran saja, pada kuartal ketiga 2020, -barusan- YouTube berhasil meraup 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 70 trilliun lho.

Hiks,  kita bisa lekas ambil kesimpulan saja jika setajir-tajirnya para user baik Gamers, Selebgram sampai Youtuber  itu. Ya tetap saja para maker-nya yakni penyipta Aplikasi mobile, bakal lebih tajir  menuai candunya.

Dan, selanjutnya ya tidak ada  salahnya jua, jika kita lekas berkenalan dengan banyak para maker itu, atau penyipta aplikasi mobile. Karena mereka sudah berhasil merasakan manisnya candu menjadi maker aplikasi mobile itu kini dan akan datang.

Bill Gates

Bill Gates
Pendiri Microsoft

Jeff Bezos, CEO Amazo

Jeff Bezos
CEO Amazon

Mark Zuckerberg CEO Facebook

Mark Zuckerberg
CEO Facebook

Dengan mengenal sosok-sosok itu semoga saja akan mendorong dan membawa kita, untuk mau menjajal peruntungan di dunia maya.

Dan segera memutuskan apakah kita mau hanya menjadi user saja? Atau malah sudah memiliki angan menjadi sosok para maker alias penyipta aplikasi mobile yang lebih menarik lagi di masa depan?

Namun wajarlah jika ternyata keduanya bukan pilihan. Melainkan, keduanya memang  sama-sama bisa ditekuni untuk merasakan candu  yang sesungguhnya. Iya menjadi user sekaligus maker aplikasi mobile.

Candu Aplikasi mobile: pemacu kebangkitan ekonomi masa depan?

Nah berbicara candu, atau ketergantungan kita pada aplikasi mobile saat ini, tentu saja sangat beralasan.

Namun konteks istilah candu ini, haruslah bermakna positif, dalam rangka, usaha meningkatkan pendapatan ekonomi. Bukan semata hal kesenangan saja.

Terus apakah kita juga merasa jika kehadiran aplikasi mobile di Gadget kita kini, semakin vital perannya? Dimana jika kita mengaitkan pada fenomena sisi ekonomi lainnya di masa Pandemi ini.

Artinya Aplikasi mobile kini tidak berbicara pada hal hiburan semata, namun sudah menjelma menjadi industri maya yang prospek dan serius untuk dijalankan.

Lihatlah, masa Pandemi, kondisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sebagai jantung perekonomian Indonesia keberadaanya tertekan.Rerata omsetnya hanya 15-10 % pada kondisi normal.

Survey Sensum & NeuroSensum, mencatat 59% UMKM harus bisa beradaptasi lewat jejaring tehnologi, terutama aplikasi mobile e-commerce.

Hal itu wajar adanya, jika kita benturkan fakta, keberadaan unit usaha Indonesia, memang yang masih minim memanfaatkan ekosisitem digital. Terdapat sekitar 906 Koperasi atau 0.73% dari jumlah koperasi aktif, yang memiliki website.

Akhirnya, kini Pemerintah mendorong pada aplikasi kemajuan digitaliasasi agar menjadi pintu masuk dunia usaha, mulai dari proses produksi hingga ke pemasaran.

Namun hal penting yang harus diingat jua, bagaimana ekonomi digital nantinya bisa berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah transaksi e-commerce. Ini juga menjadi PR kan?

Asosiasi Penyedia Jasa Internet (APJII), menyebut pada tahun 2019 pengguna internet berjumlah 196.71 juta pengguna.Angka itu tumbuh 8.9% dari tahun 2018.

McKinsey juga memprediksi, pasar e-commerce Indonesia tahun 2020, akan tumbuh melesat 55 hingga 65 milliar dollar AS.

Artinya lagi, modal inilah yang akan menjadikan candu, tantangan dan momentum untuk kita, semua pelaku usaha, untuk lebih intim masuk ke ekosisitem Digital.

Dan tentu saja,  tantangan itu akan menjadikan kita bukan hanya menjadi smart-user aplikasi mobile saja.

Namun juga mendorong kita menjadi smart-maker aplikasi mobile yang bermanfaat dan menarik, guna mendukung industri ruang maya yang sangat prospek tadi. Sanggup?

Bersama kita yakin mampu mempersiapkan jawaban tantangan era-digital itu?

Bayangan menjadi user aplikasi mobile bisa jadi lebih mudah, daripada menjadi maker aplikasi mobile? Anggapan itu wajar saja terlontar, terutama bagi kita yang –memang- belum intim dengan dunia pemograman.

Alasan awam soal hal itu, bisa saja menjadikan sandungan kita mendulang keinginan awal menjadi Maker aplikasi mobile.

Namun istilah candu yang kita bahas di atas, lagi-lagi bisa saja sih menjadi motovasi logis untuk memaksimalkan celah ekonomi.

Yakni ikut menggarap potensi atas menganganya industri digital yang akan memanja banyak Koorporasi baik kecil dan besar.

Pada prinsipnya, seorang smart-user dan smart-maker aplikasi mobile pastilah harus terbiasa memiliki dan memproduksi ide segar guna merancang dan menjaja kreasinya di publik maya.

Nah untuk melahap keduanya, menjadi smart-user dan smart-maker tentu bukan hal mustahil lagi?

Karena Pandemi ini -tanpa sadar- sudah mendorong dan mengajarkan banyak hal. Minimal Pandemi, sudah menularkan kita semangat untuk terus membuahkan ide segar guna tetap bisa survive kan?

Selanjutnya, para smart-maker aplikasi mobile, tentu akan banyak berhadapan dan mengupas pada hal teknis pemograman. Istilah bahasa PHP, MySQL, Javascript, HTML, CSS sampai Ionic menjadi modal mewujudkan ambisi kita menjadi smart-maker aplikasi mobile kan?

Pertanyaannya, adakah cara singkat yang lekas bisa kita terapkan untuk menguasai hal teknis itu, lalu lekas mengkreasikannya, membuat aplikasi mobile nan menarik?

Jawabanya tentu saja, klasik! Ya kita harus terus belajar soal hal tadi. Meski dari tingkatan dasar, ataupun tetap terus belajar, memahirkannya. Simple kan?

Dumet School, kunci jawaban menjadi Smart-Maker aplikasi mobile!

Pendidikan in-formal bisa lekas kita pilih, untuk mengakselarasi skill kita menguasai dunia digital.

Nah Dumet School, adalah satu dari sekian banyak lembaga kursus yang bergerak di bidang pendidikan, khususnya kursus website, digital marketing, dan design grafis.

Lewat pelatihan IT ala Dumet School, kita akan terlatih untuk menyipta beragam aplikasi andorid dan iOS lewat bahasa program Angular dan ionic Framework.

Dan jangan khawatir, semua masalah dasar soal bahas pemogramannya tentu juga akan dikupas tuntas, guna mendukung produk akhir berupa aplikasi mobile yang sangat berguna kan?

Dumet School sebagai lembaga pelatihan, juga memberikan banyak manfaat terutama soal waktu, materi hingga instruktur yang jua sabar.

1. Waktu fleksibel

Jika terbentur dengan padatnya aktivitas kita untuk mengambil kelas di Dumet School. Jangan khawatir, untuk memilih waktu yang sangat cocok untuk belajar di kelas.

1. Waktu fleksibel

2. Private

Menjaga fokus selama belajar, akan tersedia 1 instruktur yang melayani 1 murid saja. Dengan interaksi ini tentu saja akan mendukung semua proses belajar nantinya.

2. Private

3. Materi

Tersedia pula materi kursus yang paling baru. Artinya, dengan kemajuan era dgitalisasi akan memungkinkan kita mengikuti perkembangan yang sedang inn jua.

3. Materi

4. Konsultasi Gratis

Nah ketika masa kursus berakhir, dan kita masih ingin mengetahui hal apa saja soal pengembangan materi yang kita bahas. Kita masih bisa berkonsultasi soal itu sampai kapan pun dengan instruktur Dumet School.

4. Konsultasi Gratis

Dan untuk bisa lekas membuat aplikasi mobile  tadi, kita bisa mengambil paket kelas kursus membuat aplikasi mobile Premium. Dimana materi  bahasa pemograman meliputi Angular  yakni Frame work Javascript untuk front-end.

Serta adapula materi Ionic Fundamental, yang mengarahkan kita untuk mempraktikkan pembuatan aplikasi  mobile android dan iOS lewat fiture standart.  Dan selanjutnya  materi Ionic Advance, yang jua mempraktikan pembuatan aplikasi mobile dengan fitur advance.

Semua kelas akan berdurasi waktu dua bulanan, dan jatah waktu pelatihannya yang fleksibel tidak terbatas kapan saja.

Nah untuk lengkapnya, terdapat tiga pekat kelas pelatihan yang bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan juga Budget kita.

Kelas Premium
Biaya 13 juta

Paket Materi yang dipelajari di kelas yaitu:

  • Angular: Framework Javascript untuk front-end.
  • Ionic Fundamental: Membuat aplikasi mobile apps (android dan iOS) dengan fitur standard
  • Ionic Advanced: Membuat aplikasi mobile apps (android dan iOS) dengan fitur advanced

Syaratnya wajib sudah menguasai HTML & CSS, Bootstrap, PHP & MySQL, dan Javacript.

Estimasi selesai kursus yaitu 2 bulan dengan jatah waktu kursus yang tidak terbatas (seumur hidup) dan sampai bisa. Pembayaran bisa dengan debit, credit, transfer bank, dan cicilan.

Kelas Professional
Biaya 23 juta

Materi yang dipelajari di kelas yaitu:

  • HTML & CSSMendesain layout / tampilan website.
  • BootstrapMembuat website yang responsive
  • PHP & MySQLMembuat program / fitur di website.
  • JavacriptMembuat website yg interaktif.
  • AngularFramework Javascript untuk front-end.
  • Ionic FundamentalMembuat aplikasi mobile apps (android dan iOS) dengan fitur standard
  • Ionic AdvancedMembuat aplikasi mobile apps (android dan iOS) dengan fitur advanced

Estimasi selesai kursus yaitu 4 bulan dengan jatah waktu kursus yang tidak terbatas (seumur hidup) dan sampai bisa. Pembayaran bisa dengan debit, credit, transfer bank, dan cicilan.

Kelas Ultimate
Biaya Rp 28 juta

Materi yang dipelajari di kelas yaitu:

  • HTML & CSSMendesain layout / tampilan website.
  • BootstrapMembuat website yang responsive
  • PHP & MySQLMembuat program / fitur di website.
  • JavacriptMembuat website yg interaktif.
  • OOPPemrograman PHP tingkat lanjut.
  • Codeigniter (Company Profile)Membuat sistem Company Profile.
  • AngularFramework Javascript untuk front-end.
  • Ionic FundamentalMembuat aplikasi mobile apps (android dan iOS) dengan fitur standard
  • Ionic AdvancedMembuat aplikasi mobile apps (android dan iOS) dengan fitur advanced

Estimasi selesai kursus yaitu 6 bulan dengan jatah waktu kursus yang tidak terbatas (seumur hidup) dan sampai bisa. Pembayaran bisa dengan debit, credit, transfer bank, dan cicilan.

Nah setelah mengikuti pelatihan pada kelas Premium, minimal kita bisa berharap dan yakin lekas membuat aplikasi android dan iOS lewat  pemograman Angular dan Ionic Framework dengan mudahnya.

Share This